Dalam historiografi Myanmar, Kerajaan Thaton menempati posisi yang unik sekaligus kontroversial. Dikenal sebagai pusat peradaban suku Mon di wilayah Burma Hilir, Thaton sering dianggap sebagai mercusuar agama Buddha Theravada awal. Namun, keberadaannya yang terselimuti legenda dan kurangnya bukti arkeologis yang konkret menjadikannya salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah Asia Tenggara.
Latar Belakang dan Lokasi
Thaton, yang terletak di wilayah pesisir Delta Sungai Sittang, diyakini sebagai ibu kota Kerajaan Suwarnabhumi (Negeri Emas) yang disebutkan dalam literatur kuno. Suku Mon, sebagai etnis pendukung utama, memiliki peranan krusial dalam menyebarkan ajaran Buddha di daratan Asia Tenggara. Kota ini digambarkan sebagai pelabuhan perdagangan yang makmur, menghubungkan wilayah pedalaman Myanmar dengan jalur laut India dan Sri Lanka.
Hubungan dengan Anawrahta dan Pagan
Narasi paling populer mengenai Thaton dalam kronik Myanmar adalah penaklukannya oleh Raja Anawrahta dari Pagan pada tahun 1057 M. Menurut catatan sejarah tradisional, Anawrahta menyerang Thaton dengan motif keagamaan: ia ingin mendapatkan kitab suci Tripitaka dan relik Buddha yang tersimpan di sana karena Raja Manuha dari Thaton menolak memberikannya secara sukarela.
Setelah pengepungan selama tiga bulan, Thaton jatuh. Anawrahta kemudian membawa ribuan pengrajin, biksu, dan Raja Manuha sendiri sebagai tawanan ke Pagan. Peristiwa ini sering dianggap sebagai momen "pencerahan" bagi Pagan, di mana budaya Mon dari Thaton kemudian memengaruhi seni, tulisan, dan spiritualitas Pagan secara masif.
Perdebatan Historis: Fakta atau Mitos?
Bagi banyak sejarawan modern, cerita penaklukan Thaton oleh Anawrahta dipandang skeptis. Beberapa ahli berpendapat bahwa kisah tersebut mungkin merupakan konstruksi sejarah yang disusun kemudian untuk melegitimasi dominasi Pagan atas wilayah Burma Hilir. Beberapa poin yang dipertanyakan antara lain:
- Kurangnya bukti fisik: Penggalian arkeologis di Thaton belum menemukan bukti peradaban megah yang setara dengan narasi kronik. Struktur yang ada saat ini lebih banyak berasal dari periode yang lebih muda.
- Kesenjangan Kronologi: Ada keraguan apakah Thaton benar-benar menjadi pusat kekuatan yang sedemikian dominan pada abad ke-11 seperti yang diklaim oleh literatur Burma.
- Fungsi Politik: Narasi mengenai "pengambilan" ajaran Buddha dari Thaton ke Pagan mungkin sengaja dibuat untuk menempatkan Pagan sebagai pewaris sah tradisi keagamaan yang sudah mapan.
Warisan Budaya
Terlepas dari perdebatan apakah Thaton adalah sebuah kerajaan besar yang berdaulat penuh atau sekadar kumpulan pemukiman pesisir, pengaruh budaya yang disematkan kepadanya tidak dapat disangkal. Alfabet Mon, yang kemudian menjadi dasar bagi aksara Burma, menjadi bukti kuat bahwa terjadi pertukaran budaya yang intens. Seni arsitektur dan gaya stupa di Pagan pun banyak menyerap estetika dari budaya Mon yang berkembang di wilayah selatan.
Kesimpulan
Misteri Kerajaan Thaton mencerminkan betapa rumitnya rekonstruksi sejarah di wilayah yang mengandalkan tradisi lisan dan manuskrip keagamaan. Thaton mungkin bukan kerajaan besar dengan kekuasaan militer yang luas, namun perannya sebagai jembatan budaya dan spiritual antara India dan Myanmar tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional Myanmar. Hingga hari ini, Thaton terus menarik perhatian para arkeolog dan sejarawan yang berusaha memisahkan fakta sejarah dari balutan mitos yang megah.