Sebelum kemegahan batu candi-candi di Angkor menjadi simbol kejayaan peradaban Khmer, tanah Kamboja telah didiami oleh entitas politik yang kompleks dan penuh teka-teki. Periode ini sering disebut sebagai masa "Kamboja Pra-Angkor", sebuah era yang menyimpan banyak rahasia arkeologis yang masih terus digali oleh para peneliti dunia.
Dalam catatan sejarah Tiongkok kuno, terdapat penyebutan mengenai sebuah kerajaan kuat yang disebut sebagai Funan. Berdiri sekitar abad ke-1 hingga abad ke-6 Masehi, Funan sering dianggap sebagai kerajaan Hindu-Buddha pertama di Asia Tenggara daratan. Pusat kekuasaan mereka diyakini berada di wilayah delta sungai Mekong, tepatnya di situs yang sekarang dikenal sebagai Oc Eo.
Misteri utama Funan terletak pada struktur sosial dan sistem perdagangannya. Sebagai kekuatan maritim, mereka menjembatani jalur perdagangan antara India dan Tiongkok. Meskipun pengaruh India sangat kuat dalam bidang religi dan tata negara, Funan memiliki karakteristik budaya yang unik yang hingga kini masih diperdebatkan oleh para sejarawan, terutama mengenai bagaimana mereka mengelola irigasi dan sistem kanal yang sangat maju pada masanya.
Setelah kemunduran Funan, muncul entitas baru yang disebut Chenla. Jika Funan berorientasi pada perdagangan laut, Chenla lebih berfokus pada kekuatan agraris di wilayah pedalaman. Transisi dari Funan ke Chenla sering kali digambarkan sebagai proses yang penuh pergolakan, namun bukti arkeologis menunjukkan bahwa ini adalah evolusi bertahap dari masyarakat sungai menuju masyarakat berbasis tanah pertanian.
Chenla terbagi menjadi dua bagian, yakni Chenla Daratan dan Chenla Air. Ketegangan antara kedua wilayah ini, serta bagaimana mereka akhirnya bersatu untuk membentuk fondasi bagi Kekaisaran Angkor, merupakan bagian dari misteri besar sejarah Kamboja. Minimnya catatan tertulis dari dalam negeri pada periode ini membuat para ahli harus bergantung pada prasasti batu dan catatan singkat para utusan dari dinasti-dinasti di Tiongkok.
Terdapat beberapa alasan mengapa masa sebelum Angkor dianggap sebagai periode yang diselimuti kabut:
Meskipun sering dianggap sebagai bayang-bayang dari kejayaan Angkor, masa Kamboja awal sebenarnya adalah peletak dasar bagi peradaban Khmer yang agung. Sistem penulisan bahasa Khmer kuno, struktur hierarki sosial, dan konsep raja dewa (Devaraja) mulai dirintis pada periode ini. Tanpa keberhasilan para penguasa Funan dan Chenla dalam mengorganisir masyarakat dan mengendalikan sumber daya air, imperium Angkor mungkin tidak akan pernah mencapai puncak pencapaian artistik dan arsitekturalnya.
Mempelajari Kamboja sebelum Angkor adalah upaya untuk memahami jati diri sebuah bangsa sebelum mereka menjadi kekuatan hegemoni di Asia Tenggara. Meskipun banyak misteri yang belum terpecahkan, setiap penemuan baru memberikan harapan bahwa suatu saat nanti, potongan-potongan sejarah yang hilang ini akan kembali menyatu, memberikan gambaran utuh tentang kecanggihan nenek moyang bangsa Khmer yang telah membangun fondasi peradaban berabad-abad sebelum kuil Angkor Wat didirikan.